Onno Widodo Purbo : Mimpi Sang Pencuri Frekuensi


Dengarin yukk..cerita pak Onno….

Siapapun yang menganggap dunia teknologi informasi adalah dunia rumit dan ribet, tak ada salahnya berbincang sejenak dengan Onno Widodo Purbo. Dia bisa berbicara soal yang disangka rumit itu menjadi ringan dan santai. Penjelasannya ringkas, mudah dipahami kalangan awam, meski istilah-istilah teknik tetap digunakan.

Di kediamannya Jalan Swadaya IV/21, Cempaka Putih, Jakarta., Onno berkesempatan menerima Rizkita Sari dari Prioritas(sumber) untuk wawancara. Mantan Dosen Institut Teknologi Bandung yang menulis puluhan buku tentang teknologi informasi dan getol memperjuangkan internet murah itu berbagi cerita tentang mimpi besarnya dalam dunia teknologi informasi. Berikut petikan wawancaranya.

pk Onno

Onno Widodo Purbo

Apa masih getol memperjuangkan ketersediaan internet murah?

Semua orang Indonesia harus mendapatkan akses teknologi informasi yang mudah dan murah. Melek internet itu jadi salah satu sumber untuk pinter. Tahun 2000-an saya dan teman-teman membuat konsep warnet (warung internet).Tujuannya biar masyarakat kian dekat internet. Lalu kita bikin buku tentang warnet. Sejak tahun 2000-2002 warnet booming. Nah, saat itu kita punya masalah dengan jaringan. Kalau mengandalkan Telkom, tarifnyamahalsekali. Kita coba siasati dengan hotspot. Sayangnya jangkauan hotspot sangat pendek, hanya 100 meteran. Lalu kita bikin konfigurasi baru dengan antena tambahan supaya jangkauannya semakin jauh.

Dengan wajanbolic itu?

Iya, salah satu antena tambahan itu yang menggunakan wajan/penggorengan. Sekarang orang-orang menyebut wajanbolic. Dari asal kata wajan yang berarti penggorengan dan bolic yang artinya antenna parabolic. Ini asli temuan orang Indonesia bernama Gunawan. Dia juga ingin membuat orang Indonesia mendapatkan akses internet mudah dan murah dengan jangkauan lebih jauh. Atas ijin dia, saya bantu mempublikasikan kemana-mana. Tapi saat itu kita terpaksa mencuri frekuensi, karena kalau harus bayar frekuensinya pemerintah mahal: Rp 23 juta per tahun peralat. Setelah berhasil, ilmunya kita sebar kemana-mana. Banyak yang mempraktekan dan berhasil. Tapi akibatnya semua orang jadi nyolong frekuensi. Makanya sempat terjadi sweeping oleh polisi.

Wah, terjadi benturan kepentingan?

Pemerintah nggak sadar kalau tahun 2000-an itu Indonesia menjadi negara yang jangkauan wireless internetnya terbesar. Tahun 2004-2005, saya diundang di World Summit for Information Society, Konferensi Tingkat Tinggi orang-orang IT, presentasi soal ini. Mereka tanya solusi internet murah di Indonesia. Saya jelaskan, caranya diganti dengan membuat sambungan hotspot, pakai wireless tapi dimodifikasi dari wajan, kaleng, pipa paralon lalu colong frekuensi. Semua peserta tepuk tangan. Sejak itu saya muter ke berbagai negara, karena semua negara ingin dapat akses internet mudah dan murah. Afrika, Nepal, Swiss, Kanada, total 33 negara. Mendengar saya keliling dunia presentasi internet mudah dan murah, menteri kita malu. Setelah perang dan negosiasi dengan pemerintah, 5 Februari 2005, Hatta Radjasa menandatangani surat keputusan membebaskan frekuensi. Hasilnya, hotspot digratiskan.

Apakah kemudian perang dengan pemerintah selesai?

Belum. Justru sekarang perangnya lebih dahsyat. Sekarang kita bisa bikin Telkom sendiri dari teknologi yang kita kembangkan. Jadi sentral telpon itu bisa dibikin sendiri, semua softwarenya gratis. Itu namanya internet telpon, sama persis dengan yang dipakai Telkom.

Internet telpon itu sama dengan VoIP?

Ya, tapi ada alatnya yang bisa menyambung ke telepon biasa.

Tapi bukankah Telkom pernah mempermasalahkan VoIP?

Kalau untuk keperluan pribadi, seharusnya nggak apa-apa. Misalnya untuk keperluan satu kantor. Tapi kalau dijual ke pasar, seru jadinya. Karena kalau mau dipakai secara komersil harus persetujuan menteri. Paling seru itu kalau kantor-kantor sudah pakai VoIP, kantor-kantor sudah internetan semua, Telkom bisa ditinggal. Sekarang ini apartemen baru itu isinya VoIP. Bahkan mahasiswa instalasi juga sudah menggunakan aplikasi yang sama. Sebenarnya dalamnya Telkom itu sudah VoIP juga.

Maksudnya VoIP di Telkom?

Telkom itu saat ini sudah menggunakan VoIP. Tak hanya Telkom, seluler lainnya juga sudah menggunakan VoIP. Cuma gak dikasih tahu ke publik. Jadi yang kita instalasi itu sama. Nah, teknologi yang lebih baru lagi kita bisa bikin BTS (Base Transceiver Station) selular handphone. Sekedar informasi saja, 1 BTS selular itu harganya Rp 3 miliar. Tak mungkin rakyat bisa bikin. Tapi kalau open BTS, sudah lengkap dengan power amplifier dan antena besar, biayanya Rp 120 – Rp 130 juta, hasilnya equivalen dengan yang Rp 3 miliar. Software dan sentralnya bikin sendiri . Supaya kamu tahu, biaya BTS yang mahal, bikin ongkos pulsa juga mahal. Kalau sekarang pulsa kamu sebulan habis Rp 200 ribu, itu karena BTS-nya Rp 3 miliar. Kalau harga BTS-nya hanya Rp 120 juta, pulsa kamu equivalennya mungkin hanya seribu rupiah per bulan. Sebenarnya biaya telekomunikasi kita bisa murah jika biaya investasinya juga murah.

Bagaimana tanggapan Menteri Komunikasi Informasi tentang ini?

Menteri Komunikasi Informasi itu sebenarnya berada dalam posisi yang strategis banget. Dia berada di posisi yang bisa membuat perubahan besar di Republik Indonesia. Cuma, kayaknya langkah yang dijalani tidak membuat dampak yang besar di republik ini.

Misalnya langkah yang mana?

Yang diobok-obok urusan porno, yang diobok-obok urusan pulsa. Memang penting, tapi ada yang lebih penting lagi, yaitu bikin orang Indonesia internetnya murah. Bikin semua sekolah nyambung ke internet, bikin bangsa ini bisa bikin pabrik komputer. Misalnya lagi kasus pornografi di Black- Berry. Blackberry dikejar-kejar, supaya servernya ada di Indonesia. Untuk apa? Menurut saya, kalaupun server dipindah, kita juga tidak akan bisa melihat isinya, kan di –protect password. Daripada memindahkan server, lebih baik memindahkan pabriknya. Kan dia sudah ambil untung dari Indonesia. Dan buat saya, ini tidak hanya untuk Blackberry saja, tetapi juga Samsung, Nokia. Nokia itu kalau launching selalu di Indonesia. Mengapa servernya tidak dipindahkan ke Indonesia?

Maksudnya, apa yang dilakukan Menkominfo tidak substantif?

Yang jelas tidak ada perubahan yang strategis yang bisa berdampak besar. Oke mereka menjalankan secara administratif. Kamu butuh ijin urus ke kami, kami urus, kami kasih. Tapi dia tidak membuat suatu gebrakan yang berdampak strategis bagi bangsa Indonesia. Pertanyaan sederhana, apakah anda merasa ada efek dengan keberadaan Menkominfo?

Kalangan IT sendiri gimana?

Tidak. Kami ini berjalan sendiri. Yang sana sibuk mengurus yang kecil, urusan porno lah, yang kecil yang diurusin. Kita lagi mikir yang gede-gede. Indonesia punya 46,5 juta orang siswa dan mahasiswa. Ada 240 ribu sekolah dan kampus. Berapa yang punya koneksi internet? Hanya puluhan ribu. Konsekuensinya siswa yang melek internet hanya sepuluh persennya saja. Sisanya harus hidup tanpa pernah tahu internet, tanpa pernah tahu komputer.Orang partai politik dan lainnya hanya mencari uang saja, mana peduli yang bawah bisa hidup. Itu masalah negeri ini. IT hanya alat supaya orang jadi pintar.

Soal BTS, banyak yang tertarik mengikuti?

Banyak yang ngasih proposal. Terutama dari Papua. Tapi saya bukan perusahaan. Kalau mau ilmunya ya saya kasih,tapi saya ga mau bikin. Di Papua dan Aceh itu tidak ada sinyal, mau nelpon bagaimana? Mereka sanggup beli handphone harga Rp 3 juta. Tapi kembali ke kampung gak ada sinyal, handphone hanya dipakai dengerin musik doang, udah gila kali, hahaha..

Pernah mendapat sangsi hukum?

Pernah. Waktu nyolong frekuensi. Sekitar tahun 1986-1987, ITB bikin jaringan internet antar kampus. Kalau pakai Telkom kan mahal. Akhirnya kita pakai radio. Dulu, teknologi radio yang dipakai itu bukan teknologi radio yang digunakan oleh hotspot, tapi mirip sih. Frekuensi yang dipakai itu frekuensinya handphone, alatnya itu murah dan nyambung semuanya. Langsung Kostrad yang datang. Saya dipanggil Dirjen. Pertanyaanya sederhana, “Kamu tahu apa kesalahan kamu?” “Nyolong frekuensi, konsekuensinya pindah frekuensi.” Cuma waktu itu tidak ditangkap, karena saya dosen ITB. Bayangkan dosen masuk penjara, pasti semua pada teriak.

Masih iseng melakukan pelanggaran itu?

Masih ada. Misalnya bikin BTS seluler itu. Saya bisa ambil frekuensi dan bikin itu tanpa ijin loh. Hanya butuh waktu 3 jam untuk jadi. Open BTS itu butuh waktu 3 jam untuk instalasi. Terus, jadi seluler nomernya +62 bisa kring.

Itu pakai jaringan internet?

Dasarnya iya. Serem kan? Hahahaha, kalau mau dipenjara, Onno bisa dipenjara. Tapi taktik saya itu bukan begitu. Kalau saya maunya saya kasih ilmu. Berarti Onno Cuma kasih ilmu. Masa cuma kasih ilmu dipenjara? Yang dipenjara itu kan yang melakukan, haha.. []

Onno Widodo Purbo, lahir 17 Agustus 1962. Ia mengenyam pendidikan sarjananya dijurusan Teknik Elektro ITB, tempat ayahnya,Profe ssor Hasan Poerbo,juga mengajar bidang lingkungan hidup. Onno yang lulus sebagai wisudawan terbaik, meneruskan pendidikannya ke Mc Master University, Kanada dengan beasiswa dari PAUME (Pusat Antar University Mikro Elektronika) dan mendapatkan gelar M.Eng dalam dalam bidang laser semikonduktor dan fiber optik. Lalu melanjutkan studi S3 ke Waterloo University, Kanada, meraih gelar Phd dalam bidang Silicon Device dan Integrated Circuit. Sempat menjadi dosen di ITB, lalu keluar karena tak tahan birokrasi pegawai negeri. Sejak itu mendedikasikan pada masyarakat dengan memberikan ilmunya secara gratis kepada siapapun. Onno lebih suka menyebut profesinya sekarang sebagai IT writer. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s