Vatikan juga menyoroti intoleransi di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.


Anugerah sebagai “Negarawan Dunia” akan diterima Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari The Appeal of Conscience Foundation (ACF) malam ini, Kamis (30/5), di New York, Amerika Serikat, di tengah kritik yang terus berkembang.
Sehari jelang malam penganugerahan, Rabu, lebih dari 5.000 orang menyetujui petisi online untuk menolak anugerah tersebut. Media-media AS dan lembaga HAM Internasional juga menyoroti pemberian penghargaan ini di tengah beredarnya petisi online itu.afc

Selain petisi online oleh NU, LSM HAM Internasional Human Rights Watch, seperti dilansir The Washington Post, Kamis, menyatakan kekerasan terhadap umat Kristen, Islam Syiah, dan Ahmadiyah di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“ACF mengaku sebagai organisasi yang mempromosikan toleransi. Fakta sederhananya adalah SBY tidak sedang mempromosikan tolerasi beragama di Indonesia. Itu justru sebaliknya,” kata John Sifton, Direktur Advokasi HRW Asia, Kamis.

Petisi online yang digagas Imam Shofwan, anak seorang Kyai Nahdlatul Ulama (NU), mendapat 8.000 tanda tangan pada Rabu pagi. Petisi tersebut merupakan penolakan karena kenyataannya Indonesia masih sarat konflik SARA, terutama konflik agama yang terjadi dalam satu tahun terakhir.

Senada dengan Sifton, Usman Hamid, aktivis Kontras, LSM HAM dari Indonesia, turut mempertanyakan kredibilitas yayasan ACF dengan memberikan pengharagaan kepada SBY. Benny Susetyo, seorang tokoh agama Katolik dan pengurus Konferensi Waligereja Indonesia, sejak awal mendesak SBY untuk mempertimbangkan keputusannya menerima anugerah “Negarawan Dunia”.

Selama puluhan tahun, ACF memberikan pengharagaan “Negarawan Dunia” kepada mantan PM Inggris Gordon Brown, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Pihak yang menentang anugerah tersebut, sebagian besar adalah aktivis HAM, menilai Indonesia belum melakukan upaya maksimal mencegah terjadinya kekerasan terhadap kelompok minoritas di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Di tengah suasana jelang kunjungan presiden, nama Indonesia juga disoroti Dewan HAM PBB. Dalam siaran di Radio Dewan ini, Juru Bicara Vatikan Monsieur Silvano Maria Tomassi, mengemukakan adanya keprihatinan terhadap toleransi beragama di dunia, termasuk di Indonesia.

Pengekangan Kebebasan Beragama

Dalam acara ini, Presiden Persecution.Org, Jeff King kepada FoxNews.com mengatakan, negara-negara seperti Mesir, Pakistan, dan Nigeria menjadi daerah pengembangan intoleransi beragama secara vulgar. King juga mengatakan ada 10.000 orang Kristen dibunuh di Indonesia selama periode 1998-2003.

“Penganiayaan berakhir di dunia komunis dan meningkat tajam di dunia Islam,” kata King.

Juru Bicara Vatikan, Monsieur Silvano Maria Tomassi menjelaskan, riset yang dipercaya pihaknya menybeutkan ada peningkatan signifikan terhadap pengekangan kebebasan beragama.

“Pengikut Kristen dan keyakinan lain menjadi target pengusiran, dirusak tempat ibadahnya, dijarah harta bendanya, dan diculik pemimpinnya seperti kasus yang menimpa Uskup Yohanna Ibrahim dan Boulos Yaziji di Allepo (Suriah),” kata Tomassi, Rabu (29/5).

Sejumlah kelompok hak asasi manusia tidak memberikan pernyataan secara khusus terkait jumlah yang disebutkan Vatikan, organisasi seperti Persecution.Org menyatakan penganiayaan terhadap Umat Kristen telah meningkat di Afrika dan Timur Tengah dalam satu dekade terakhir.

“Dua ratus juta umat Kristen saat ini berada di negara yang memungkinkan terjadinya penganiayaan. Angkanya benar-benar meningkat,” kata Presiden Persecution.Org, Jeff King.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono tiba di Bandara Jhon F Kennedy, Rabu (29/5) siang, sekitar pukul 12 waktu New York, Amerika Serikat.

Presiden dan rombongan dijemput Wakil Tetap RI/Duta Besar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Desra Percaya beserta istri, Duta Besar RI untuk AS Dino Patti Djalal, Atase Pertahanan KBRI Washington DC Brigjen TNI Witjaksonoan, dan pejabat Bandara John F Kennedy, New York.

Presiden Yudhoyono diagendakan berkunjung selama tiga hari di Amerika Serikat juga untuk menghadiri pertemuan ke-5 panel tingkat tinggi PBB. Ia juga akan menerima penganugerahan “World Statesman Award” dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) di Hotel Pierre, New York dan memimpin pertemuan-pertemuan lainnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa, memiliki pandangan berbeda atas pemberian anugerah kepada SBY. Menurut Marty, pengharagaan tersebut tidak hanya ditujukan kepada SBY tapi juga seluruh rakyat Indonesia, dan berarti sebagai peluang untuk Indonesia yang lebih baik.

“Saya kira, kita harus lihat hal ini secara proporsional. Masyarakat Internasional menghargai apa yang telah kita lakukan, tapi juga ingin melihat kita lebih baik. Di masa lalu, masyarakat internasional melihat kita dengan tidak percaya. Sekarang memberi apresiasi yang artinya bukan semuanya sudah baik. Masih ada peluang untuk lebih baik, dan bapak presiden pun mengakui hal yang sama. Mari kita jangan terbiasa sekarang seolah-olah melukai diri sendiri,” kata Marty, pekan lalu.

This post was submitted by SH / IM.

(DARI SEORANG TEMAN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s