MENGULAS ELEGI G 30 S PKI DIBALIK SOSOK IDEAL SOE HOK GIE SANG DEMONSTRAN


Soe hok Gie menanggapi suasana politik waktu itu dengan mempertahankan idealismenya sebagai cara/bentuk perlawananya pada pengusa pada waktu itu dengan tidak bergabung dalam salah satu partai politik atau tidak berpolitik praktis.Soe Hok Gie - FlanzkaSpot

Beliau adalah salah satu pejuang hak-hak kemanusiaan dierah soekarno pemimpin besar revolusioner dan Soeharto sang pemimpin diktator orde baru.

kala itu sosok soe Hok gie sangat familiar dengan kritik2nya yg tajam dan pandangan2nya yg ideal bagi bangsanya, hingga dia menghembuskan nafasnya yg terakhirnya di gunung semeru, gunung tertinggi dijawa.

dia adalah seorang mahasiswa satrawan sala satu perguruan tinggi yakni di universitas UI dan sekalin jadi dosen pada waktu itu.

Kendati berasal dari keluarga minoritas Tionghoa, namun ia mendedikasikan diri sepenuhnya untuk kepentingan lebih besar, bangsanya tanpa memandang agama, suku dan warna kulit.

hmmm… kok sy jadi kepikiran si koko Ahok ya..?? =D silahkan anda menganalisnya sendiri

lanjut…

Seperti disampaikan oleh Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Utama, Hok Gie menyikapi tiap persoalan secara ‘hitam putih’. Karena itu analisisnya menjadi tajam dan menusuk. Pada masa demokorasi terpimpin sebagai contoh, ia merasa gusar saat melihat bung Karno melenceng dari cita cita revolusi semula. Menurutnya pemerintahan sang proklamator bukan hanya tak bekerja dengan efisien tetapi juga termahsyur karena praktik korupsi dan dekadensi moral. Sementara rakyat sendiri hidup dalam kemelaratan, mengantri minyak dan kekurangan pangan. Hok Gie menulis, “kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos,. Lebih baik mahasiswa yang bergerak, maka lahirlah sang demontsran.” Sebagai seorang intelektual yang merasa terpanggil untuk melakukan perubahan, Soe Hok Gie memainkan dua peran ganda yakni sebagai man on the street sekaligus Man On the paper. lalu bagaimana dengan era saat ini kedelai saja masih diimpor?

Sebagai man on the street ia menjadi seorang demonstran yang aktif, hari harinya diisi dengan demo. Rapat penting disana sini dan membangun jaringan. Tahun 1966 ketika mahasiswa turun kejalan dengan mengusung isu Tritura,

masih adakah yg ingat dengan tritura=tiga tuntutan rakyat itu..??

ini dia…

Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat Berisi / Memiliki Isi :

1. Bubarkan PKI

2. Perombakan Kabinet

3. Turunkan Harga1_full

Ia berada dibarisan paling depan. Konon ia pulalah yang menjadi salah satu tokoh kunci terjadinya alisansi anatara Mahaiswa dan ABRI 1966.

Semula Hok Gie bersama kawan-kawannya bekerja keras demi mewujudkan cita cita mereka. Ia percaya bila rezim orde lama tumbang maka keadaan akan lebih baik. Namun kejadiaanya justru anti klimaks. Setelah Bung Karno Mundur dan Soeharto menggantikan posisinya keadaan ternyata tak jadi lebih baik. Ia geram atas pembunuhan besar besaran yang dialami oleh anggota PKI.

hmm….masih ingat kah anda dengan film gerakan 30 september yg disutradarai oleh Arifin C. Noer itu,yg disingkat G 30 S PKI itu? yg terjadi pada thn 65, yg sampai sekarang masih kontraversi dgn penayangan film G 30 s dan kejadian aslinya.ada banyak presepsi yg mengatakan tidak sekeji itu, itu adalah pembodohan publik.SOE HOK GIE

“Film G30S PKI itu adalah fiksi dan mengandung pembohongan pada masyarakat karena berangkat dari skenario sutradara (Arifin C. Noer), film yang murni menceritakan kejadian sesungguhnya dibalik tragedi kemanusiaan 65 adalah film dokumenter. Sedangkan monumen Lubang Buaya (monumen Pancasila Saksi) juga sama karena berdasarkan hasil visum tidak ada itu yang namanya jendral disilet-silet oleh Gerwani,”ujar Putu Oka Sukanta, korban 65 dan Sastrawan Lekra di masa Orde Lama di kantor Kontras, pada redaksi majal kompas.

kita tau bersama bahwa monumen dan film tersebut sudah di bongkar dan diperbaharui oleh rezim orde baru kala itu. dan tidak seharusnya untuk dihancurkan, seperti yang telah dilakukan Orde Baru dalam merenovasi total atau menghancurkan bangunan asli Lapas Salemba dan Bukit Duri untuk menutupi jejak kejahatan kemanusiaan atas korban 1965. Film dan monumen tersebut meskipun mengandung pembohongan terhadap publik cukup dijadikan bahan pelajaran bahwa rakyat Indonesia sudah dibohongi oleh Orde Baru.

Monumen tersebut berisi mengenai diorama. Dari hasil penyelidikan Komnas HAM menyebutkan ada sembilan bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh Kopkamtib dibawah komando Soeharto yang meliputi pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, perampasan kemerdekaan atau kebebasan fisik, penyiksaan, perkosaan, penganiayaan, dan penghilangan orang secara paksa terhadap para korban 1965 di seluruh Indonesia .hingga juga terjadi pada mereka yang di tuduh sebagai simpatisannya juga ikut diperbudak dan dibantai.

waoo..perbudakan….???

sy jadi ingat lagi saudara Yoseph Letfa dalam sebuah status Fb nya…

“Pada Pemilu 1982, di kampung ku ada 5 orang tua termasuk almarhum ayah ku mereka dituduh PKI krn dicurigai akan memilih PDI pd hari Pemilu wkt itu, krn salah satu diantara mereka baru pulang dr Flores. Mungkin saja krn Flores adalah daerah basis merah PDI kala itu. Lalu para orang tua berlima itu dihukum di pos polisi setempat selama seminggu lebih, tanpa ada putusan apa kesalahan mereka. Selama masa hukuman itu, mereka disuruh menyiangi ladang jangung milik kapospol, ada sedikit lucu tp cukup menegangkan krn pd hr terakhir masa hukuman, mereka disuruh menyiangi ladang jagung yg baru tumbuh setinggi 10-15 cm, mereka pun dgn sengaja mencabut seluruh tanaman jagung itu lalu ditanam kembali. Tiba sore hr mereka dibebaskan dan disuruh pulang ke rmh masing2, dan dlm perjalanan pulang mereka bersepakat jika kejadian di ladang jagung td diketahui bhw jagung itu akan mati seluruhnya, dan polisi kembali mecari dan menangkap mereka, maka mereka siap utk bunuh para anggota polisi itu. Namun beruntung, para anggota polisi itu pun sehari kemudian setelah mengetahui tanaman jagung satu bidang lahan itu telah menguning dan mati seluruhnya tp tdk mengambil tindakan reaktif. Ini kisah nyata, msh tersisah 1 orang saksi hidup di kampung ku, beliau sekarang berumur 50-an. Saat kejadian thn 1982 itu beliau baru tamat SLTA. Refleksi PKI tertuduh dan rakyat tertuduh PKI.

Salam 1 Okt 1965-1 Okt 2013. Hidup rakyat…!!!”

tapi apapun itulah gambaran fersi rezim orde baru.

Lanjut…
Hok Gie jelas bukan PKI, tapi dalam pandangannya tiap orang sejahat apapun memiliki hak untuk membela diri dan mendapat pembelaan hukum saat akan diadili. Ketika banyak orang tidak tahu atau bisa jadi pura-pura tidak tahu terhadap hal itu karena takut mendapat tuduhan serupa dari Orde Baru, ia dengan berani menulis, “di akhir tahun 1965 dan disekitar tahun 1966, dipulau yang indah ini (Bali) telah terjadi suatu mala petaka yang mngerikan, yang tiada taranya dalam zaman modern ini baik dari sudut waktu yang begitu singkat maupun dari jumlah mereka mereka yang disembelih.”shgdahanalukibektiingeshg

Saat HAM perlu dibela dan keadilan perlu ditegakan, kawan kawan aktifinya justru berpaling dan lebih memilih untuk bergabung di parlemen.

hmmmm…lagi2 sy teringat sesuatu deh,siapa2 tangan kanan soeharto pada waktu itu itu heheee..tapi sudahlah =D kita tinggakan  yg itu dulu.

Lanjut…

Hok Gie kecewa, karena baginya mahasiswa adalah kekuatan moral yang independen dan tak tersentuh oleh unsur politik manapun. mereka bertugas untuk mengganti rezim yang telah bobrok dengan rezim baru yang lebih baik. Setelah tugas itu usai, maka mahasiswa harus kembali ke kampus untuk belajar. kekecewaan itu ia wujudkan dengan menggelar protes yang bikin geger. Hok Gie mengirimi mereka bedak, gincu, cermin, benang dan jarum heheeeee..ada2 saja si Gie itu yaa…

Dalam suratnya ia menulis, agar mereka terlihat lebih menarik dimata penguasa. “bekerjalah lebih baik, hidup orde baru! Nikmatilah kursi Anda-tidurlah nyenyak”, ungkapnya sinis. wkwkwkkk…

Keberanian Soe Hok Gie bukan tanpa risiko. Ia mendapat surat kaleng dengan makian rasis agar dirinya kembali saja ke negri asalnya atau dirempet mobil. “Nasibmu akan ditentukan pada suatu ketika. Kau sekarang sudah dibuntuti. Saya nasihatkan jangan pergi sendirian atau di malam hari”, begitu bunyi salah satu ancaman yang ditujukan. Kawan kawannyapun mulai menjauh darinya. Saat keadaan tidak menjadi lebih baik, padahal penguasa telah berganti, ia curhat pada sang kakak Arif Budiman, “Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”

Guna menghilangkan keresahan dalam dirinya, iapun sering sering naik gunung. Aktifitas yang membuat ia dapat mengenal dan mencintai Indonesia secara langsung. Ia bersinggungan dengan orang-orang desa dan di alamlah dirinya mendapat kedamaian. Hingga kematian menjemputnya dipuncak Semeru pada 16 Desember 1969, cita cita Soe Hok Gie soal kehidupan yang adil makmur belum tercapai. Ia mati muda sebelum usiannya genap 27 tahun. Alam semesta rupanya lebih mencintai dirinya dan tak tak rela kalau sang demonstran kembali bergabung dengan kehidupan kota yang serba munafik. Prasisti atas kematiannya abadi tersimpan dipuncak gunung semeru. Barangkali ia telah menjadi penunggu gunung tertinggi di pulau jawa itu dan sedang mengawasi perjalanan bangsanya dengan bimbang.soe-hok-gie

Akhir kata saya adalah…
Apa reaksi Soe Hok Gie bila masih hidup saat ini? Indonesia sekarang tak lebih baik bila dibanding dengan zamannya dulu. Apakah ia akan menjadi apatis atau tetap resisten melawan setiap ketidakadilan dengan segala risikonya? Apakah ia akan berkompromi dengan kekuasaan atau tetap menjaga jarak dan independen?

Guna menjawab pertanyaan itu, sedari awal Hok Gie berkata, “Di Indonesia hanya ada dua pilihan: menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas batas sejauh jauhnya”. Sampai ‘batas sejauh jauhnya’ ia berujar. Dengan senegap intergritas dan bukti bukti perjuangnnya, bilapun ia masih hidup saat ini, niscaya dirinya akan tetap konsisten rel perjuangannya yang murni. Ia tak akan mendirikan partai politik atau menjadi bagian dari kekuasaan. Profesi yang dipilih mungkin dosen, mungkin jurnalis atau mungkin juga keduannya. Namun bila profesi profesi tersebut tak dapat lagi menampung kreatifitas pikirannya, bisa saja ia menjelma jadi seorang blogger yang aktif. Bukankah sejak remaja Hok Gie telah menjadi tukang curhat dibuku hariannya. Kemajuan teknologi dapat memfasilitasinya untuk menyebarluaskan apa yang ia pikirkan secara luas dan gratis.
mayat gie
Terlepas ia telah meninggal atau masih hidup, Soe Hok Gie adalah model ideal bagi setiap generasi muda Indonesia, khususnya mahasiswa untuk menilai diri mereka secara jujur. Apa yang telah mereka lakukan untuk bangsa ini? Tridharma pendidikan tinggi mengamanatkan tiga poin penting, yakni pendidikan, penelitian dan penelitian. Namun seperti jauh panggang dari api, sebagian mahasiswa memaknai kehidupan kampus hanya berkutat soal bangku bangku, ruang kelas dan pengajaran tok. Tak heran muncul istilah istilah seperti kupu kupu atau kuliah pulang kuliah pulang bagi mereka yang tidak punya aktifitas lain di kampus kecuali belajar, atau kuper atau kuliah-perpus kuliah-perpus, bagi mereka yang telalu serius menderasi diktat diktat. Sementara sebagian lagi sama sekali tak tahu apa esensi pendidikan tinggi sesungguhnya.JADI TAK HERAN PENDIDIKAN SAAT INI KERAP MENCIPTAKAN GENERASI YANG MEMELIKI KARAKTER BOBROK…

Padahal menurut Novelis Edith Warthon, Generasi muda hendaknya menjadi lilin yang menjadi cahaya sekaligus mencari cermin yang memantulkan sinarnya. Hal ini dibuktikan oleh Soe Hok Gie. Secara personal dan sosial ia dikenal sebagai sosok simpatik, ramah dan tak sungkan membantuk kawan yang mendapat masalah. Sebagai seorang intelektual ia telah memenuhi panggilan jiwanya yang paling semeru040109-2dalam. kekritisan sikapnya, tercermin dari aktiftasnya sebagai seorang demostran dan penulis. Baginya menjadi pintar saja tidaklah cukup kalau belum bisa bertindak benar. Bukankah kepintaran yang tak diiringin kebenaran berpotensi besar untuk ‘merusak’ dimasa datang. Hok Gie telah menyelerasakan fungsi tri Dharman pendidikan tinggi yang pincang itu. Meski pengkhianatan dan ancaman ditujukan padanya, namun Hok Gie tetap konsisten. Ia tak tergiur untuk bergabung dengan kekuasaan dan memeperkaya diri sendiri seperti kawan kawannya.

Sikap seperti itu yang mestinya merasuki jiwa tiap generasi muda. Kembali menelaah risalahnya dan berkali-kali meneladaninya merupakan suatu keutamaan. Meneladani dalam prespektif mewarisi karakternya yang penuh martabat. Keculasan diganti kejujuran dan apatisme diganti dengan pengabdian kendati kecil dampaknya dimasyarakat. Pertanyaanya kemudian, apakah kita berani melakukan hal serupa sekarang? Menjadi tidak populer dan dianggap aneh di tengah keadaan yang serba munafik. Seperti disampaikan Hok Gie, kalau memang berani maka rentaslah jalan hidup yang kering dan sepi di depan kita.i

Mataram 1 oktober 2013 (dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s